Kilas Balik Jakarta Fashion Week 2008
Penyelenggaraan Festival Mode Indonesia - Jakarta Fashion Week pada tahun 2008 lalu, pertama kalinya diadakan di Pacific Place. Acara fenomenal berlangsung sukses ini merupakan prestasi yang dibanggakan oleh setiap anggota IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia). Sejumlah desainer Indonesia yang telah mengukir talenta di catwalk kembali menyemarakkan JFW (Jakarta Fashion Week) 2008 lalu melalui rancangan fashion bernuansa etnik, klasik, hingga kontemporer.


 Koleksi : Uke Toegimin


Tema JFW 2008 pada saat itu adalah "Unity in Diversity", mencoba mengangkat kembali keanekaragaman budaya Indonesia dalam kesatuan Fashion Indonesia. Maka, tidak heran jika catwalk JFW 2008 kali itu pun mengalirkan banyak hasil perjalanan kreativitas dengan inspirasi nilai etnik Indonesia. Nama legenda pun bermunculan dalam kreasi etnik busana Indonesia, seperti diantaranya Ghea Panggabean, Tuty Cholid dan Carmanita.

Penyelenggaraan JFW 2008 ini diiringi visi yang besar untuk menjadikan Jakarta memiliki potensi sebagai pusat mode di Asia Tenggara. Menurut tokoh IPMI, Stephanus Hamy, JFW 2008 itu merupakan momentum yang tepat untuk mengenalkan lebih banyak koleksi fashion yang sesuai dengan gaya hidup Indonesia masa kini, namun sekaligus bernilai kaya budaya sebagai komoditas ekspor mancanegara. Menurutnya, ini merupakan kesempatan besar bagi Indonesia menyuarakan keindahan keanekaragaman tanah air ini.

Desainer Era M. Soekamto dalam acara ini, mencoba menarik minat fashion untuk eksekutif muda yang memiliki keterbukaan pikiran. Era memperkenalkan batik motif Parang Rusak yang pengerjaannya bahkan menggunakan aplikasi software dalam akurasi pola motifnya. Metode ini tak lain adalah untuk memperkenalkan nuansa futuristik pada batik Indonesia. Untuk menyabet kesempurnaan karya uniknya itu, Era bahkan berkolaborasi dengan Pixel People Project, kelompok muda Bandung yang memenangkan kompetisi dari Menristek. Mengenai kontroversi yang diprediksi, Era berpendapat bahwa ia siap diprotes. Misinya, tak lain adalah agar batik Indonesia bisa diterima dan bertumbuh di kalangan luas.

Ghea Panggabean mempersembahkan perjalanan karyanya dalam menggunakan motif nusa Tenggara Timur dalam siluet modern. Chossy Latu mencoba mematahkan kesan bahwa batik hanyalah kostum resmi dengan melahirkan koleksi busana pantai berbahan batik. 



 Koleksi : Ghea Panggabean



 Koleksi : Ghea Panggabean



 Koleksi : Tuty Cholid



 Koleksi : Tuty Cholid


 Koleksi : Carmanita

 
 Koleksi : Carmanita


Koleksi : Lenny Agustin



Koleksi : Hannie Hananto

 

Koleksi : Jeanny Tjahyawati
 

Koleksi : Merry Pramono


 

Koleksi foto dan berita :
Lisa Maree Williams/image.net ,
www.feminagroup.com ,
www.fashionwindows.net    
Labels: edit post
0 Responses

Post a Comment